Rabu, 30 Desember 2009

penulisan naskah siaran berita bab 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian dan Kriteria Berita Radio
2.1.1 Pengertian Berita Radio
Jurnalistik berasal dari bahasa perancis yaitu journ yang berarti catatan atau laporan harian, dengan demikian jurnalistik bukanlah pers maupun media massa, jurnalistik adalah kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan setiap hari. Dan radio merupakan salah satu media yang bergelut dalam bidang pemberitaan. Radio sendiri merupakan media auditif (hanya disa didengarkan), tetapi murah, merakyat, dan bisa dibawa kemana-mana. Oleh karena itu penyampaian informasi oleh radio dapat sampai dengan cepat kepada khalayak. Adapun definisi berita radio adalah:
Suatu sajian laporan berupa fakta dan opini, yang mempunyai nilai berita berita, penting, dan menarik bagi sebanyak mungkin orang, dan disiarkan melalui media radio secara berkala. Berita radio menjawab persoalan apa yang terjadi, dan bagaimana peristiwa tersebut berlangsung. (Masduki,2001:10)


2.1.2 Kriteria Berita Radio
kegiatan jurnalistik akan menjadi sebuah berita apabila mempunyai nilai berita, inilah kriteria utama berita sehingga layak disiarkan. Nilai berita sendiri menurut Julian Harriss, Kelly Leiter dan Stanley Johnson yang diterjemahkan oleh A.N.Abrar, dalam diktat on-line Pelatihan Jurnalistik-(www.infojawa.org,2005:2-3) “ Nilai berita mengandung delapan unsur, yaitu :



Konflik
informasi yang menggambarkan pertentangan antar manusia,bangsa dan Negara yang perlu dilaporkan kepada khlayak. Dengan begitu khalayak mudah mengambil sikap.

Kemajuan
informasi tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa perlu dilaporkan kepada khalayak. Dengan begitu khalayak mudah untuk mengambil sikap.

Penting
informasi yang penting bagi khalayak dalam rangka menjalani kehidupan mereka sehari-hari perlu segera dilaporkan kepada khalayak.

Dekat
informasi yang memiliki kedekatan emosi dan jarak geografis dengan khalayak perlu segera dilaporkan. Makin dekat satu lokasi peristiwa dengan tempat khalayak, informasinya akan disukai khalayak.

Aktual
informasi tentang peristiwa yang unik, yang jarang terjadi perlu segera dilaporkan kepada khalayak. Banyak sekali peristiwa yang unik, misalnya mobil bermain sepakbola, perkawinan manusia dengan gorilla, dan sebgainya.

Manusiawi
Informasi yang bias menyentuh emosi khalayak, seperti yang bisa membuat menangis, terharu, tertawa, dan sebagainya, perlu dilaporkan kepada khlayak. Dengan begitu, khalayak akan bisa meningkatkan taraf kemanusiannya.

7. Berpengaruh
Informasi mengenai peristiwa yang berpengaruh terhadap kehidupan orang banyak perlu dilaporkan kepada khalayak. Misalnya informasi tentang operasi pasar Bulog, informasi tentang banjir, dan sebagainya.

Dalam kenyataannya jumlah unsur berita berbeda-beda tergantung kebijakan media jurnalistik itu sendiri,ada yang hanya beberapa unsur saja. Yang jelas semakin banyak unsur nilai berita yang terkandung dalam sebuah peristiwa, maka makin besar kemungkinannya peristiwa tersebut akan dihadirkan menjadi sebuah berita,oleh media jurnalistik.
Dan untuk memudahkan para pencari berita untuk mencari berita maka diperlukan klasifikasi berita, berita terdiri dalam kategori yaitu berita berat (hard news) yaitu berita yang dinilai mengguncang dan menarik perhatian massa seperti berita tentang politik, keamanan, bencana alam,atau isu sosial, dsb. Berita ringan (soft news) lebih bertumpu pada ketertarikan manusiawi seperti tentang hobi, info selebritis, atau tentang perilaku sosial dan masyarakat. Dan berdasarkan sifatnya berita, terbagi atas berita diduga dan berita tidak terduga, dan menurut lokasi peristiwanya berita terbagi atas berita yang terjadi di tempat tertutup (indoor news), serta berita yang terjadi di tempat terbuka (outdoor news).
Dan berdasarkan materi isinya,yang di ungkapkan Sumadiria (2005:67). berita dapat dikelompokan ke dalam:
berita pernyataan pendapat, ide atau gagasan (talking news)
berita ekonomi (economic news)
berita keuangan (financial news)
berita politik (political news)
berita sosial masyarakat (social news)
berita pendidikan (education news)
berita hukum dan keadilan (law and justice news)
berita olah raga (sports news)
berita kriminal (crime news)
berita bencana dan tragedi (tragedy and disaster war)
berita perang (war news)
berita ilmiah (scientific news)
berita hiburan (entertainment news)
berita tentang aspek-aspek ketertarikan manusiawi atau minat insani (human interest news)

Pengetahuan dan pemahaman tentang klasifikasi berita sangat penting bagi setiap reporter, editor dan bahkan para perencana dan konsultan media (media planer) karena pemahaman terhadap klasifikasi berita merupakan pijakan dasar dalam proses perencanaan (planning), peliputan (getting), penulisan (writing), dan pelaporan serta pemuatan, penyiaran, atau penayangan berita (reporting and publishing).
Dan pedoman dasar untuk menulis naskah berita adalah kita perlu mengetahui karakteristik berita radio, yang nanti akan mempengaruhi gaya penulisan para penulis naskah berita dalam menyajikan berita, menurut Masduki (2001:12-14) karakteristik berita radio, yaitu


segera dan cepat
laporan peristiwa atau opini di radio harus sesegera mungkin dilakukan untuk mencapai kepuasan pendengar dan mengoptimalkan sifat kesegeraannya sebagai kekuatan radio.

aktual dan faktual
berita radio adalah hasil liputan peristiwa atau opini yang segar dan akurat sesuai fakta, yang sebelumnya tidak diketahui oleh khalayak. Opini terkait dengan upaya pendalaman liputan(investigasi) atas suatu data atau peristiwa.

penting bagi masyarakat luas
harus ada keterkaitan dengan nilai berita (news value) yang berlaku dalam pengertian jurnalistik secara umum, guna memenuhi kepentingan masyarakat.

relevan dan berdampak luas
masyarakat selaku pendengar merasa membutuhkannya dan akan mendapatkan manfaat optimal dari berita radio, yaitu pengetahuan, pengertian dan kemampuan bersikap atau mengambil keputusan tertentu, sebagai respons atas sebuah berita.

selain itu, karena sifat auditifnya, berita radio juga harus memenuhi persyaratan lain, yaitu:

lokal-emosional
berita menjadi alat komunikasi antar-individu pendengar dengan mayarakat sekitarnya. Efektifitas berita tergantung pada aspek kedekatan atau lokalitasnya dengan pendengar secara geografis dan psikologis, serta keterlibatan aktif mereka secara emosional dan interaktif.

personal
komunikasi berita radio berlangsung seperti seseorang yang sedang bercerita atau membicarakan sesuatu dengan temannya. Prosesnya memberikan kesan bahwa penyrar sedang berbicara dengan pendengar sehingga akrab ditelinga, bukan terkesan membacakan sesuatu.

selintas
radio adalah media dengan mobilitas pendengar yang tinggi, ditangkap selintas, dan sekali saja, karena ia disimak bersamaan dengan kegiatan lain. Tidak ada pendengar yang betah terhadap satu stasiun radio dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, untuk menarik perhatian pendengar, sejak awal berita perlu menggunakan lead yang menarik, yang disusun dengan kaidah piramida terbalik.

fokus dan anti detail
berita adalah penyiaran suatu ide atau peristiwa. Kemampuan pendengar untuk mengingat suatu rincian laporan sangat terbatas. Oleh krena itu, radio harus meringkas data dan menhindari tuturan kalimat yang bermakna ganda. Karena tidak biosa didokumentasikan, maka didalalam berita radio dikenal istilah pengulangan (Updating), guna mencapai kejelasan, apalagi jika ada perkembangan berita lanjutannya yang harus disampaikan pada rentang waktu tertentu dalam satu hari.
imajinasi
radio dan terutama berita radio adalah theater of mind . berita yang harus disajikan harus dapat mengembangkan imajinasi dramatik pendengar secara tepat atas peristiwa yang terjadi. Pendengar secara tepat atas peristiwa yang terjadi. Pendengar seperti sedang berada di lokasi kejadian atau terlibat dalam persoalan yang diberitakan.

fleksibel
cara penyampaian berita rtadio sangat bergantung pada kreativitas dan gaya penyiar yang membacakannya. Seluruh pengertian dan makna teks yang disampaikan, tercermin dari infleksi (tinggi, rendah, datar) kekuatan suara penyiar sebab announcer is the captain of the station.

2.2 Bentuk Berita Radio
Bentuk berita yang lazim di radio, menurut pendapat Masduki (2001:14-15) adalah sebagai berikut:
berita tulis (writing news/adlibs /spotnews),berita pendek yang bersumber dari media lain atau ditulis ulang. Bisa pula berupa liputan reporter yang teksnya diolah kembali di studio.
berita bersisipan(news with insert),berita yang dilengkapi atau di-mix dengan sisipan narasumber.
news feature,berita atau laporan jurnalistik panjang yang lebih bersifat Human interest.
phone in news,berita yang disajikan melalui laporan langsung via telepon.
buletin berita (news buletin),gabungan beberapa berita pendek yang disajikan dalam satu blok waktu,
jurnalisme interaktif (news interview),berita yang bersumber pada sebesar mungkin keterlibatan khalayak, misalnya wawancara masyarakat lewat telepon, vox-pop, atau berita yang menempatkan masyarakat sebagai subjek pelapor (reporter dadakan), baik mereka sebagai pelaku maupun sekadar saksi mata kejadian.

dari segi waktu dan penayangan dan kekuatan materi berita yang disampaikan kepada pendengar, berita radio dapat di bagi menjadi tiga:
Hard news,yaitu berita aktual yang baru saja terjadi atau laporan langsung saat peristiwa tersebut terjadi. Hard news bertutur tentang konflik yang menyentuh emosi tinggi seperti berita peperangan, kerusuhan, pergantian mendadak seorang tokoh publik.
Soft news, yaitu berita lanjutan yang lebih bersifat laporan peristiwa tanpa terikat waktu, lebih menekankan pada aspek human interest, perilaku, dan tempat-tempat yang bisa mempengaruhi banyak orang. Soft news dapat berisi nerita peristiwa rutin, seperti informasi pembangunan, seminar, ritual budaya, pelantikan pejabat.
Indepht news, yaitu berita mendalam (lebih dari sekedar paparan fakta permukaan), biasa di kemas dalam format feature, tetapi bisa pula dalam berita bersisipan, dengan syarat, penekanan isinya terletak pada proses pendalaman kasus atau tinjauan aspek lain dalam suatu peristiwa.

2.3 Sumber Berita
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan sumber berita? Woseley dan Campbell dalam Wonohito (Sumadiria,2005:96) menulis: orang banyak ini, yaitu konsumen surat kabar dan majalah serta alat-alat komunikasi lainnya, merupakan sumber berita bagi si wartawan. Dari merekalah ia harus memperoleh fakta-fakta untuk bahan berita atau feature atau iklan, malah barangkali, untuk cerita fiktif novel

Sumber berita harus layak dipercaya dan menyebutkan nama sumber tersebut. Sumber-sumber yang tidak disebutkan identitasnya merupakan isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu berhati-hatilah memilih orang sebagai sumber informasi yang akan dikutip atau sebagai bahan penulisan berita. Sekali memperoleh informasi yang salah makan akan berdampak negatif atau menurunnya tingkat keprcayaan khalayak terhadap kredibilitas lembaga tersebut. Carilah orang-orang yang benar mengetahui tentang peristiwa yang sedang diliput ileh reporter. Dapatkan sumber dari beberapa orang sehingga keakuratan dapat dicapai (Muda dalam Sumadiria 2006:97).

Secara umum sumber berita menurut Masduki (2001:21) dapat di bagi dua:
primer / langsung (Getting), dengan menerjunkan reporter untuk meliput sebuah peristiwa di lapangan. Penggalian berita dilakukan dengan wawancara dan atau laporan pandangan mata.
sekunder / tidak langsung (news Room), antara lain dapat dikutip dari : (a) media cetak (koran,tabloid, majalah), (b)media elektronik (televisi,internet), (c) siaran pers pemerintah/swasta, (d) network / jaringan dengan kantor berita, (e) pendengar.

Jadi apapun yang yang memberikan berita atau informasi kepada wartawan maka dia disebut Sumber Berita (News Source ). Tetapi tidak semua sumber berita dapat di jadikan sebuah berita, sumber berita harus di nilai kelayakannya untuk di jadikan sebuah berita, menurut Masduki (2001:23-24), secara umum ada sejumlah kaidah jurnalistik yang patut di pertimbangkan, yaitu:
aktualitas / timelines
radio dianggap sebagai media paling unggul dalam kecepatan waktu penayangan berita. oleh karena itu, aktualitas menjadi nilai berita utama yang harus dijaga.
kedekatan / proximity
kedekatan secara emosi dan fisik akan membuat sebuah berita menarik perhatian pendengar. Berita kecil di lokasi yang terdekat dengan pendengar, lebih berarti dari berita besar yang lokasinya sangat jauh dengan mereka.
tokoh publik / prominence
peristiwa di seputar tokoh idola, panutan dan pemimpin masyarakat selalu menarik untuk didengar, karena dengan ketokohannya mereka menjadi milik publik.
konflik / conflict
kontroversi antartokoh, polemik seputar masalah, atau keputusan tertentu yang mempengaruhi publik, peristiwa perang, bentrokan, dan perdebatan sengit; pasti menarik disiarkan, termasuk peristiwa kriminalitas
kemanusiaan / human interest
berita-berita yang menyentuh rasa kemanusiaan seperti masalah pengungsi dan kelaparan, sangat bernilai untuk semua orang. Selain dapat menggugah empati, juga membangun sikap simpatik pendengar.
sensasional / unique
keanehan, keganjilan dan hal-hal yang spektakuler dalam kehidupan manusia, selain memiliki unsur hiburan, juga dapat memberikan dorongan prestasi sekaligus penyadaran terhadap dinamika kehidupan pendengar.
besaran kasus / magnitude
jumlah korban jiwa atau kerugian yang besar dalam sebuah peristiwa selalu menjadi perhatian masyarakat. Apalagi jika peristiwa tersebut berhubungan dengan masalah ekonomi. Misalnya, tindak korupsi milyaran rupiah, kenaiakan harga-harga sembako, dan tarif angkutan yang melambung tinggi.

2.4 Pengertian Dan Peranan Naskah Berita
Secara umum naskah adalah bentuk tertulis dari sebuah aplikasi ide atau gagasan kedalam tulisan yang disusun sedemikian rupa untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dan Naskah Program Acara Siaran adalah menurut Darmanto dalam buku Teknik Penulisan Naskah Acara Siaran Radio , adalah;
“Naskah Program Acara Siaran dapat di artikan sebagai bentuk tertulis dari suatu gagasan atau pemikiran orang/ kelompok yang telah disistematisasikan dan dimaksudkan untuk mencapai tujuan penyelenggaraan siaran radio atau pun televisi”.(Darmanto,1998:1).

Dan pengertian berita menurut Sumadiria (2006:65), adalah:

“laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media on-line internet”

Berdasarkan kutipan di atas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa Naskah Program Acara Siaran Berita adalah, suatu bentuk tertulis dari suatu gagasan atau pemikiran orang/kelompok yang telah disistematisasikan dan dimaksudkan untuk memberikan informasi aktual fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak melalui siaran radio ataupun televisi.
Menurut Darmanto (1998:1-2), Naskah program acara siaran sedikitnya mengandung sedikitnya 3(tiga) unsur pokok, yaitu
Voice adalah suara yang keluar secara teratur, diproduksi dengan penuh penghayatan, memperhatikan segi Intonasi, Diksi, Presering, dan Imphasing. Bukan suara yang keluar secara spontan dan tidak beraturan,
Musik dalam konteks ini tidak terbatas pada jenis musik modern saja, melainkan musik dalam pengertian yang luas, yaitu: semua bentuk perpaduan bunyi yang memiliki arti dan memiliki nilai artistik tinggi,
Sound adalah suara-suara yang munculnya tidak direncanakan, spontan, tidak beraturan namun berfungsi sebagai atmosfir yang menjelaskan seting suasana, seting tempat,seting waktu, dan sebagainya dari suatu peristiwa.


Agar menghasilkan paket yang baik maka semua materi disusun secara berurutan menurut kaidah-kaidah produksi program siaran radio. Proses pengurutan tersebut perlu memperhatikan strukutr dramatik sehingga menghasilkan karya yang menarik dan mempunyai nilai artistik yang tinggi.
Suatu siaran radio dapat dikatakan baik dari segi isi jika penyelenggaraannya mempunyai visi dan misi yang jelas. Kedua segi itu dapat di capai melalui perencanaan yang matang dan pelaksaannya sempurna. Indikasi tingkat kematangan tersebut dapat dilihat dari tersedia tidaknya naskah siaran yang berkualitas. Maka tidak berlebihan apabila naskah mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam penyelenggaraan suatu program acara siaran radio.
Naskah program acara siaran mempunyai fungsi praktis, yaitu menyatukan pandangan dan kehendak dari semua orang yang terlibat dalam Proses Produksi Program Acara Siaran Radio. Dan peranan dalam proses produksi yaitu sebagai sarana komunikasi antar orang yang terlibat produksi dan sekaligus menjadi pedoman kerja yang utama,(pedoman kerja yang lainnya adalah intruksi produser atau pengarah acara)

2.5 Karakteristik Penulisan Naskah berita Radio
Radio sebagai media massa merupakan sarana informasi yang baik, karena menurut Prof. Shiraishi Katsumi (Darmato,1998:15-16), Radio memiliki 4 karakteristik yaitu:
Rapidity
artinya tingkat kecepatan gelombang radio di dalam menyampaikan informasi sangat tinggi. Dengan demikian tingkat aktualitas informasi yang disampaikan bisa dalam hitungan detik. Dibandingkan dengan media surat kabar atau majalah
Wide Coverage
artinya bahwa pancaran gelombang atau tepatnya jangkauan siaran radio sangat luas. Jika koran dan majalah dapat diketahui secara pasti luas wilayah peredarannya, tidak demikian halnya dengan siaran radio. Gelombang radio bisa menembus daerah yang paling terpencil sekalipun.
Simultaneous
artinya adalah keserempakan. Jadi suatu siaran radio pada waktu yang bersamaan dapat diikuti secara bersama-sama pula oleh ribuan bahkan jutaan orang yang tersebar di berbagai tempat.
Illiteracy.
arti leterlegnya adalah kebutahurufan (keadaan buta huruf). Dalam hal ini kata illiteracy di pakai untuk menyatakan bahwa suatu siaran radio dapat di mengerti orang yang buta huruf sekalipun

Dan radio juga bersifat “Auditori hanya untuk didengar, dan mengandung gangguan” (Onong, 1990:82), maka dalam penulisan naskah radio perlu diperhatikan aspek-aspek yang dapat memperlihatkan kelebihan radio dan mengurangi kelemahan radio. Dan aspek itu menurut Darmanto (1998:16-18) terdiri tiga aspek yaitu :
Aspek Seni
setiap penulis naskah acara siaran radio harus menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah untuk kepentingan pertunjukan seni dengar. Oleh sebab itu penulis naskah harus memperhitungkan komposisi dari setiap unsur produksi acara radio,yaitu:kata, musik, dan sound effect.
Komposisi ketiga unsur tersebut harus direncanakan dengan baik direncanakan sebaik mungkin agar terjadi sajian seni yang tidak membosankan. Sesuai dengan karakteristik media radio sebagai produk teknologi modern, maka asas berkesenian perlu di kembangkan pun untuk mengikuti semangat kesenian modern.
Aspek Teknologis
setiap penulis naskah siaran radio harus memahami aspek teknik teknologis yang berupa perangkat keras produksi.penulis naskah harus tahu sifat siaran yang akan ditulisnya: apakah siaran Live (Siaran Langsung) ataukah Playback (rekaman). Selain itu harus mengetahui apakah pelaksanaan siaran ada Didalam Studio atau Diluar Studio.
Aspek teknologis itu sangat berpengaruh terhadap proses penulisan naskah acara siaran yang baik. Pengalaman menunjukkan bahwa naskah yang ditulis dengan mengabaikan pertimbangan mengenai kondisi riil perangkat teknologi yang ada di studio produksi biasanya tidak bermanfaat.
Aspek Bahasa
dalam konteks pembicaraan mengenai naskah radio, yang dimaksudkan dengan aspek kebahasaan mencakup segi tata bahasa(grammer), pilihan kata, gaya bahasa dan atau warna penulisan.
Sesuai dengan karakteristik radio yang Auditif maka pemakaian bahasa dalam artian yang verbal sangat penting. Sebab seluruh gagasan yang hendak disampaikan kepada audiences diungkapkan melalui bahasa audio. Maka secara ringkas dapat dikatakan bahwa bahasa yang dipergunakan harus sederhana, mudah di ucapkan, mudah diingat dan dipahami.

Karakteristik penulisan naskah siaran mengacu pada aspek bahasa, yang menurut Darmanto (1998:17). berdasarkan kesimpulannya dari buku AIBD, terutama pada Unit Writing For Radio, adalah :

menulis untuk radio pada dasarnya untuk kepentingan berbicara (diucapkan). Oleh karena itu hindari cara penulisan sebagaimana kalau hendak membuat buku. Kalimatnya tidak selalu sempurna, dan menggunakan idiom sehari-hari. Untuk itulah tahap-tahap penuangannya sebagai berikut : pikirkan, katakan, baru kemudian ditulis.
menulis untuk radio pada dasarnya untuk komunikasi orang perorang (person to person), komunikasi antara Anda (kamu,kau) dengan saya. Oleh karena itu kalimat atau kata-katanya tidak bersifat formal, dan penuh keakraban. Adalah lebih baik menggunakan kalimat aktif dari pada pasif.
menulis naskah untuk siaran radio pada dasarnya hanya untuk sekali dengar. Oleh karenanya gunakan bahasa yang sederhana (hindari pemakaian istilah-istilah asing yang belum memasyarakat), gunakan kalimat sederhana, dan pendek-pendek, jangan terlalu menjejalkan informasi, dan bawa sesegera mungkin pada sasarannya, kemudian penjelasan latar belakang masalahnya.
menulis naskah untuk siaran radio berarti hanya mengandalkan pada media sound (suara).sehubungan dengan itu maka implikasi kebahasaannya, antara lain : pergunakan kata-kata yang dapat memberi imajinasi nyata, menggunakan gaya bahasa Smile dan Metaphor, pengulangan untuk memberikan tekanan- tekanan tertentu dan usahakan pendengar tertarik dengan pengucapan kalimat pertama


2.6 Langkah-Langkah Penulisan Naskah
2.6.1 Teknik menulis naskah
Sebelum melakukan penulisan naskah, seorang Script Writer (penulis naskah program siaran) harus memperhatikan faktor-faktor penting yang mempengaruhi proses kerja penulis. Sedikitnya ada tujuh faktor yang harus selalu diperhatikan, yaitu :
Golongan Acara
Tujuan Program
Sasaran (target audiences)
Format Acara
Kondisi Peralatan Teknik Teknologis
Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber Dana Produksi(SDP).(Darmanto,1998:21)

Secara universal pula berita ditulis dengan teknik melaporkan (to report) yaitu mengungkapkan fakta secara objektif , merujuk kepada rumus 5W1H (What,Where,Why,When,Who,How ) agar berita tersebut akurat dan memenuhi standar teknis jurnalistik yang artinya, berita itu mudah disusun dalam pola yang sudah baku, dan mudah serta cepat dipahami isinya oleh pendengar. Begitu pula dalam berita radio, teknik penulisan yang disusun sedemikian rupa mudah dimengerti dan sederhana (Short and Simple) dengan pola Piramida Terbalik, yaitu seperti dijelaskan diagram berikut;













(Sumadiria,2006:119)


)


Dalam anatomi berita sebagaimana terlihat dalam gambar, pada puncak piramida kita menemukan Judul (Head Line), disusul kemudian dengan Baris Tanggal (Date line, Teras Berita (lead), Perangkai (Bridge), Tubuh (Body), dan Kaki Berita (Leg).
Menurut teori jurnalistik, judul harus mencerminkan pokok berita sebagaimana tertuang dalam teras berita, dan tidak boleh dari tubuh apalagi sampai teras berita. Secara sederhana teras berita adalah paragraf pertama yang memuat fakta atau informasi terpenting dari seluruh keseluruhan uraian berita. menurut Persatuan Wartawan Indonesia (Sumadiria,2006,120-121) .menjelaskan secara rinci dalam sepuluh pedoman penulisan berita:
a. Teras berita yang menempati alinea atau paragraf pertama harus mencerminkan pokok terpenting berita. alinea atau paragraf pertama itu terdiri atas lebih satu kalimat, akan tetapi sebaiknya jangan melebihi tiga kalimat.
b. Teras berita, dengan mengingat sifat bahasa indonesia, jangan mengandung blebih dari 30 dan 45 perkataan. Apabila teras berita singkat, misalnya terdiri atas 45 perkataan atau kurang dari itu, maka hal itu lebih baik.
c. Teras berita harus ditulis dengan baik sehingga: (1) mudah ditangkap dan cepat dimengerti, mudah diucapkan di depan radio dan televisi dan mudah diingat, (2) kalimat-kalimatnya singkat, sederhana susunannya, dengan mengindahkan bahasa baku serta ekonomi bahasa, jadi menjauhkan kata-kata mubazir, (3) jelas melaksanakan ketentuan satu gagasan dalam satu kalimat. (4) tidak mendompleng atau memuatkan sekaligus unsur 3A dan 3M (Apa, Siapa, Mengapa, Bilamana, Dimana, Bagaimana), (5) dibolehkan memuat lebih dari satu unsur 3A-3M.
d. Hal-hal yang tidak begitu mendesak, naumn berfungsi sebagai penambah atau pelengkap keterangan hendaknya dimuat dalam badan berita.
e. Teras berita, sesuai dengan naluri manusia yang ingin segera tahu apa yang telah terjadi, sebaiknya mengutamakan unsur Apa, jadi disukai teras berita yang memulai unsur Apa. Unsur Apa itu diberikan dalam ungkapan kalimat yang sesingkat mungkin yang menyimpulkan atau mengintisarikan kejadian yang diberitakan.
f. Teras berita juga dapat dimulai dengan unsur Siapa, karena ini selalu menarik perhatian manusia. Apalagi kalau Siapa itu ialah seseorang yang jadi tokoh di bidang kegiatan atau lapangannya. Akan tetapi kalau unsur Siapa itu tidak begitu menonjol, maka sebaiknya ia tidak dipakai dalam permulaan berita
g. Teras berita jarang menggunakan unsur Bilamana pada permulaannya. Sebab unsur waktu jarang merupakan bagian yang menonjol dalam suatu kejadian. Unsur waktu hanya dipakai sebagai permulaan teras berita jika memang unsur itu bermakna khusus dalam berita.
h. Unsur Bagaimana dan unsur Mengapa di uraikan dalam badan berita, jadi tidak dalam teras berita.
i. Teras berita dapat dimulai dengan kutipan pernyataan seseorang (Quotation Lead) asalkan kutipan itu tidak suatu kalimat yang panjang. Dalam alinea berikut hendaknya segera ditulis nama orang itu dan tempat seta kesempatan dia membuat pernyataan.

2.6.2 Format Penulisan Naskah Berita
Penulisan naskah berita, diketik pada kertas HVS berukuran, setengah halaman folio, dgn ketentuan sebagai berikut:
jumlah baris dan kata
setiap naskah berita maksimal terdiri dari 15 baris kalimat dan terdiri maksimal 120 kalimat dengan jarak 2 spasi,
format pengetikan
batasan dimulai pada jarak 2,5 cm dari pinggir atas dan kiri kertas dan 1,5 cm dari kanan serta maksimal 1 cm dr bawah
tanda baca
penggunaan tanda baca mengikuti ketentuan yang berlaku untuk siaran radio, yaitu tanda koma ( , ) diganti dengan ( / ). Tanda titik ( . ) untuk berhenti sejenak menggunakan tanda ( // ). Sedangkan berakhirnya naskah berita menggunakan tanda ( /// )
angka dan singkatan
angka dalam naskah radio ditulis memakai huruf apabila satuan, belasan, ratusan, dan ribuan, dan detail dari jumlah sebenarnya bisa di ganti dengan kata lebih atau kurang. Singkatan yang umum dapat langsung disebutkan apabila singkatan yang belum di ketahui masyarakat maka disebutkan kepanjangannya lalu kemudian di ikuti oleh singkatannnya.

2.6.3 Proses Penulisan Naskah
Proses penulisan naskah adalah proses dimana sebuah naskah dibuat adapun tahapannya terdiri dari Tahap Perencanaan, Tahap Prapenulisan, Pelaksanaan Penulisan, Evaluasi dan Penulisan Kembali,yaitu:
Tahap Perencanaan
A. Menentukan Tema/ Topik
Tema atau Topik merupakan hal yang sangat pokok dalam proses penulisan naskah. Tema/Topik mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai bingkai atau pengikat dan sekaligus sebagai sumber permasalahan yang akan dibahas dalam siaran. Dengan adanya Tema/Topik maka masalahnya dapat dirumuskan dengan jelas dan tujuan program bisa ditentukan.
Biasanya topik ditentukan oleh produser, akan tetapi apabila produser belum menentukan tema pihak penulis dapat menentukan sendiri, dengan mengacu pada deskripsi acara yang bersangkutan.
Ada spesifikasi tersendiri dalam menentukan tema untuk siaran radio atau televisi,dan itu tergantung dari format acaranya,format tersebut adalah Feature dan Majalah Udara. Jenis format feature mensyaratkan Tema/Topik tunggal, sedangkan format Majalah Udara harus menggunakan lebih dari satu topik.

B. Melakukan Riset Pendahuluan
Pada Riset Pendahuluan kegiatan yang dilakukan adalah mencari latar belakang informasi mengenai permasalahan yang akan ditulis.Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Apakah tema/ topik yang akan ditulis memenuhi kelayakan untuk dipublikasikan, yaitu menarik, aktual, dan bermanfaat bagi publik.
Apakah tema/ topik yang akan ditulis belum pernah dipublikasikan oleh orang lain? Kalau sudah pernah, angle bagaimana yang hendak dipakai sekarang ?
Apakah materi yang akan ditulis bisa di dapat dengan fasilitas yang tersedia?
Apakah kelak tidak mengalami kesulitan teknik produksi bila tema/ topik tersebut ditulis?

Riset pendahuluan bisa dilakukan dengan membaca-baca kepustakaan yang tersedia (surat kabar, majalah, brosur-brosur, buku-buku), melihat-lihat pameran, mengunjungi museum, mendengarkan rekaman-rekaman peristiwa, melihat televisi/ video rekaman peristiwa tertentu.Bisa juga di tempuh melalui wawancara dengan orang-orang yang di anggap mengetahui masalah yang akan ditulis.

Merumuskan Masalah
Banyak sedikitnya hal-hal yang ditanyakan disesuaikan dengan durasi acara yang bersangkutan.Agar penulisan lebih terarah maka terlebih dahulu harus dirumuskan permasalahannya.
Menurut Masduki (2001,25) dalam mengangkat suatu peristiwa menjadi berita, ada empat masalah pokok atau bidang utama, yaitu:
1. ekonomi, meliputi masalah perdagangan, perbankan, industri, pasar;
2. politik, meliputi birokrasi, parlemen, eksekutif, partai, demonstrasi;
3. hukum, meliputi pengadilan, perceraian, HAM; dan
4. sosial budaya, meliputi peristiwa alam, kesenian, olah raga, prestasi dan segala hal yang berdimensi human interest.
Dengan mengacu pada pendapat diatas maka kita dapat merumuskan masalah, tanpa keluar dari koridor yang akan ditulis dalam naskah nanti.
Menentukan Tujuan Program
Meskipun setiap jenis acara sudah dengan sendirinya memuat segi tujuan yang harus tercapai, namun setiap program acara yang dibuat harus jelas goal yang hendak dicapai. Rumusan tujuan berupa kalimat pernyataan dan merupakan jawaban atas problematik yang di ajukan, contoh, siaran pendidikan dan kebudayaan mengajarkan sesuatu yang ideal, sedangkan acara hiburan dimaksudkan untuk memberikan kepuasan batin audience.

Menentukan Format Acara
Format acara yang di maksud disini adalah format acara dari segi produksinya, menurut Darmanto (1998:47) format acara dari segi produksi adalah “rancang bangun suatu acara program siaran menurut pendekatan teknik penyajiannya kedalam bahasa audio. Titik tekanannya adalah pada nuansa produksi”

Tahap Prapenulisan
Pengumpulan Materi
Memasuki tahap pengumpulan materi, setiap penulis harus mengetahui tempat-tempat yang diyakini menjadi sumber informasi berkaitan dengan masalah yang akan ditulis. Jenis acara dan format penyajian akan sangat mempengaruhi proses pengumpulan materi. Menurut Darmanto (1998:38) Terdapat beberapa hal pokok yang berkaitan dengan pengumpulan materi penulisan, yaitu :

1. memilih subjek penulisan
(1) bersifat fungsional, atau okupasional. Hal itu menyangkut substansi permaslahan yang hendak ditulis. Persoalan pokok yang perlu di ajukan untuk itu meliputi ; apa sesungguhnya peristiwa yang terjadi, menyangkut bidang apa, bagaimana pengaruhnya terhadap yang lain, dan sterusnya. Jadi menyangkut hal-hal yang esensial.
(2) bersifat geografis, yaitu menyangkut wilayah geografi tempat terjadinya peristiwa atau sumber informasi. Misal, dalam satu wilayah kabupaten yang sama dengan stasiun penyiaran yang bersangkutan, lain kabupaten, lain propinsi , dan sebagainya.
(3) bersifat biografis, yaitu pertanyan-pertanyaan yang dimaksudkan unmtuk menjawab “siapa” (who) dari suatu peristiwa . apakah orang yang bersangkutan tokoh politik, budayawan, sastrawan, artis, pejabat pemerintahan, orang kebnyakan ? dan seterusnya.
(4) bersifat kronologis, yaitu jenis pertanyaan yang dimaksudkan untuk mengungkapkan suatu peristiwa terjadi.


2. pembatasan subjek permasalahan
Pembatasan subjek permasalahan itu sangat penting dilakukan agar penulis tidak terjebak pada ambisi yang berlebihan. Penulis yang belum berpengalaman sering mempunyai keinginan sulit diwujudkan menjadi bahasa audio yang baik karena karena pemilihan subjek permasalahan yang terlalu luas. Penulis harus menyadari bahwa pemilihan subjek harus mengingat beberapa hal : (1) apakah permasalahan yang bersangkutan riil terjadi dan menarik untuk orang banyak? (2) apakah sumber informasinya pasti bisa didapatkan? (3) apakah peralatan/fasilitas teknik yang tersedia memungkinkan meng-covernya, dan apakah sesuai dengan kemampuan biaya yang disediakan oleh stasiun penyiaran yang bersangkutan?.
Menyeleksi Materi
Setelah pengumpulan materi penulis harus melakukan seleksi, materi mana yang bisa dipakai dan mana yang tidak. Beberapa pertanyaan pokok berikut bisa dijadikan pedoman untuk pelaksanaan seleksi materi penulisan :
a. Apakah materi yang terkumpul sudah sesuai dengan kebutuhan format penyajian ?
b. Apakah materi yang tersedia mampu menjawab rumusan permasalahan, dan sesuai dengan tujuan program?
c. Apakah informasi didapat dari sumber primer ataukah sekunder?
d. Apakah isi meteri yang terkumpul sudah sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya? Ataukah ada manipulasi?
e. Apakah materi yang terkumpul sudah sesuai dengan visi penyiaran stasiun yang bersangkutan?
f. Apakah materi yang terkumpul sudah sesuai derngan jenis acaranya, serta tidak akan menimbulkan persoalan baru baik bagi penulisnya sendiri maupun stasiun penyiaran yang bersangkutan? (Darmanto,1998:39)

Selain pertanyaan di atas, hal lain yang perlu diperhitungkan dalam proses seleksi materi adalah tingkat kesulitan teknis produksi dan durasi yang tersedia.
C. Merencanakan Pesan
Pesan merupakan inti dari seluruh penyelenggraan produksi program atau pentiaran acara. Pesan pada dasarnya adalah suatu nilai yang oleh pembuat program dimaksudkan untuk diterima, dimengerti dan dipahami serta mempengaruhi perilaku audiences. Oleh sebab itu pesan harus jelas, baik dari segi pembuat program (penulis naskah, pengarah acara, dan produser) serta bagi audiences.
Pesan dapat disampaikan secara langsung melalui judul program bisa pada awal program, tapi ada juga yang menggunakan cara tidak langsung. Tetapi cara yang dianggap paling baik adalah menyampaikannya pada permulaan program, m\kemudian menyusunnya secara bertahap, dan berakhir sebagai kesimpulan (Sunyoto, 1978 :9)

Mengenai cara menyampaikan pesan maka Daniel Handoyo (Sunyoto, 1978 :10) menyarankan penggunaan sejumlah metode berikut:
menggunakan semboyan yang sama yang memuat pesan. Disampaikan berulang-ulang selama satu paket program.
pesan disampaikan beberapa kali dalam satu paket program tetapi menggunakan kata-kata yang berbeda.
berbagai bagian program itu memuat kenyataan yang sama tetapi selalu dalam situasi yang berbeda, atau diucapkan oleh pemain lain.

D. Memilih Gaya dan Warna Penulisan
Menurut Darmanto (1998:41) ada beberapa warna penulisan, yaitu :
pungent verbs. Penulisan dengan menggunakan kalimat yang lebih memberi kesan aktif (kata kerja yang menonjol)
narrative treatment. Cara penulisan masalah yang dimulai dari awal sampai akhir. Dengan kata lain penuturannya secara kronologis, jadi bukan menggunakan sistem lead.
periodic sentense. Warna penulisan ini menggunakan kata-kata dengan kalimat yang memukau dan menimbulkan emosi. Dari kalimat satu ke kalimat yang berikutnya mempunyai arti yang sama, tetapi lain ekspresi.
methaphora and smile. Suatu penulisan dengan menggunakan penganalogian atau kesejajaran makna dalam rangkaian kalimat. Peristiwa bisa hangat, bisa tidak, tetapi keabadiannya bisa melekat dalam ingatan banyak orang.
repetion. Penulisan dengan cara menciptakan kesan pengulangan dengan maksud untuk menciptakan image/ citra.
informality. Penulisan bagaikan bicara. Tampak seakan-akan tidak nada hubungan, terputus, maknanya melompat-lompat, tapi enak di dengar dan ada garis logikanya. Kadang-kadang dimulai dari kalimat yang belum selesai.
sparkle. Adalah cara penulisan yang didalamnya disisipkan ungkapan pameo yang terkenal.
personality. Warna penulisan ini lebih menekankan pada terciptanya suasana yang bersifat pribadi.
prose rythem. Cara penulisan yang menggunakan kalimat bertujuan menyentuh persaaan orang.
emphasis. Penulisan dengan menggunakan kalimat yang memberi kesan sepele tapi cukup mempunyai arti.
F. Merenncanakan Alur Penulisan
(Darmanto,1998:41)
Konsepsi tangga dramatik digunakan untuk membuat naskah non drama menurut Bambang Winarso (Darmanto,1988:42), penulisan naskah siaran berita seyogyanya mengikuti alur penulisan seperti yang telah dicontohkan diatas.

Pelaksaan Penulisan
Pada dasarnya pelaksanaan penulisan naskah program acara siaran radio terdiri dari tiga tahap, yaitu :
Membuat sinopsis
Membuat treatment
Membuat full-script

Evaluasi Dan Penulisan Kembali
C. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian kembali suatu objek atau pekerjaan. Suatu naskah juga memerlukan evaluasi, dan menurut Darmanto proses evaluasi mencakup beberapa pertanyaan yang, dapat membantu menilai sebuah naskah siaran yang layak, seperti yang diungkapkan oleh Darmanto (1998:42-43) berikut:
Apakah materi yang disajikan sudah bisa menjawab semua permasalahan yang diajukan? Apakah dapat memuaskan keinginan semua lapisan masyarakat?
Apakah materi yang hendak disajikan sudah di cek kebenarannya?
Apakah materi sudah didasarkan pada sumber yang seharusnya? Apakah tidak terjadi kesalahan di dalam memilih nara sumber?
Apakah materi yang dipilih benar-benar berkualitas? Tidakkah terjadi salah pilih?
Dari aspek kebahasaan dapat kita pertanyakan: apakahbahasanya sudah komunikatif? Menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh semua lapisan masyarakat? Sudahkah menggunakan bahsa tutur? Apakah kalimatnya sudah cukup sederhanaataukah banyak menggunakan kalimat majemuk?Apakah masih terdapat istilah asing yang mengganggu audiences?
Aspek kesulitan teknis produksi. Hal-hal yang patut dikaji ulang dalam kaitan itu: apakah naskah yang bersangkutan memungkinkan untuk diproduksi sesuai dengan fasilitas yang tersedia? Sesuai dengan keterbatasan waktu, tenaga dan dana yang tersedia?
Apakah materi yang ada sudah sesuai dengan durasi yang tersedia? Perlukah dikurangi atau bahkan sebaliknya? Jika harus dikurangi, bagian mana yang bisa di edit dan apakah editing tidak akan mengganggu kesinambungan naskah? Jika harus ditambah, apakah tersedia bahan? Kalau tidak tersedia, bagaimab\na harus mendapatkannya?

Penulisan Kembali
Penulisan kembali adalah proses dimana naskah perlu diperbaiki apa bila dalam proses evaluasi didalam naskah tersebut tidak memenuhi poin-poin yang telah disebutkan sebelumnya. jika berdasarkan evaluasi naskah harus diperbaiki, maka perlu diadakan penulisan kembali. Namun kalau hasil evaluasi meneguhkan bahwa naskah sudah baik, tyidak perlu ada penulisan kembali. Naskah yang sudah jadi tersebut kemudian diserahkan kepada produser, untruk selanjutnya diproduksi oleh pengarah acara. Biasanya penulis naskah dilibatkan dalam proses produksi, terutama sebagai konsultan.

2.7 Bahasa Radio
Radio menggunakan bahasa informal atau bahasa tutur yang menurut masduki, bahasa tutur adalah “bahasa oral yang dalam praktiknya bersifat singkat, lokal (mengutamakan gaya bahasa lokal), padat, sederhana, lugas dan menarik...” (Masduki,2001:30), hal tersebut dilakukan untuk memudahkan pendengar memahami isi dari materi yang disampaikan.
Prinsip dasar menulis bahasa tutur adalah Write The Way You Talk, tulislah seperti anda berbicara. menurut Masduki (2001:30-31) ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan dalam menulis kalimat untuk sebuah naskah berita, yaitu:
bahasa percakapan antara dua teman sebaya
langsung ke pokok persoalan
menggunakan kata-kata yang ekonomis, tidak bertele-tele dan berbasa-basi
menyederhanakan data angka nominal
jarak subjek dalam kalimat berita harus dekat dengan predikatnya. Dilakukan dengan mengurangi semaksimal mungkin penggunaan anak kalimat.
menggunakan kalimat atau kata tunggal dengan makna tunggal, hindari kata yang bermakna ganda.
menggunakan kalimat aktif dalam bentuk kalimat positif.


penyebutan singkatan harus terlebih dahulu disebutkan kepanjangannya, baru di ikuti oleh singkatannya. Dan penyebutan nama yang panjang maka disingkat saja, dan menyebutkan gelar akademis atau keagaamaan maka disebutkan gelar yang populer dan berhubungan dengan materi yang di bahas. Seperti yang di ungkapkan Masduki dalam bukunya Jurnalistik Radio (2001:31) “menyangkut nama orang yang panjang dan juga gelar akademis, maka pilihlah gelar yang paling populer dan relevan.

2.8 Penyajian Berita
Penyajian berita adalah fase dari proses produksi dimana semua materi telah di buat lalu kemudian di siarkan/di rekam, menurut Masduki (2001:35) terdapat dua model presentasi berita, yaitu:
Siaran langsung (live)
Reporter melaporkan naskah berita secara langsung dari lapangan tanpa melalui proses penyuntingan, dengan menggunakan sarana komunikasi seperti seluler atau telepon umum.
Siaran tunda (recorded)
Setelah melakukan peliputan di lapangan, reporter kembali ke studio menurut tenggat waktu (deadline) yang disepakati bersama oleh tim redaksi. Pekerjaan di studio dimulai dengan menulis naskah berita, kemudian melakukan penggabungan (mixing) di studio produksi, setelah itu baru naskah berita di bacakan.

Format berita radio sekarang populer dengan berita bersisipan atau sound-bite. Dengan penggunaan sisipan, berita radio menjadi semakin faktual, hidup, atraktif, dan tajam dari sisi jurnalistiknya.
Menurut Masduki (,2001:32) ada dua fungsi sisipan, yaitu:
berfungsi sebagai penguat dan penajam narasi yang dibacakan reporter. Sisipan dimasukan setelah ada narasi yang menjelaskan sedikit tentang isi sisipan yang akan muncul.
berfungsi sebagai penjelas dan memperkaya informasi yang disampaikan reporter. Isi sisipan berupa pernyataan yang sama sekali berbeda dengan isi narasi pengantar, tetapi pada dasarnya masih berhubungan erat.

sisipan atau sound-bite berkisar antara 10-20 detik, berupa potongan dari sebuah wawancara atau kutipan suara pendukung fakta lainnya. Akan tetapi tidak semua sisipan dapat dipakai, maka ada suatu kriteria sisipan layak pakai, yaitu :
secara teknis, kualitas rekaman harus baik, sehingga ketika disisipkan di dalam berita, kualitas suara pembaca narasi berita dan kualitas rekaman tidak jauh berbeda.
berisi komentar atau rekaman suasana yang paling menarik, misalkan teriakan massa saat demonstrasi, pembacaan pernyataan sikap, orasi, keluhan, atau pernyataan yang paling tajam dan kontroversial dari narasumber.
dapat mendukung, memperkuat, dan memperkaya fakta yang disampaikan, sebelum atau sesudah sisipan tersebut dimunculkan dalam berita
sisipan bukan berstatus sebagai pelengkap atau hanya pemanis, melainkan memangmerupakan bagian utama dari berita, sehingga isinya terjamin dari sisi akurasi data dan keseimbangan (antara pemuatan sisipan yang pro dan kontra). (Masduki 2001:32-33)

berita bersisipan merupakan tradisi dalam setiap pemberitaan di radio, karena menjamin aktualitas dari isi berita tersebut, seperti yang diungkapkan Maeseneer, ...”produksi berita modern merupakan kombinasi antara penyajian langsung dengan sisipan hasil rekaman”...(Paul de Maeseneer, 1999:126).

penulisan naskah siaran berita bab 1

PROSES PENULISAN NASKAH SIARAN
PROGRAM ACARA “LINTAS PAGI”
DI RADIO REPUBLIK INDONESIA (RRI ) PROGRAMA 3 (PRO3) BANDUNG

LAPORAN TUGAS AKHIR
Diajukan untuk memenuhi Ujian Akhir Program Diploma III
Sub Program Penyiaran Pada Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran

Septian Nugraha
K0A03088

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
PROGRAM DIPLOMA III
SUB PROGRAM PENYIARAN
JATINANGOR
2008 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Radio tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan tetapi juga berfungsi sebagai sarana informasi, bahkan radio mampu mempengaruhi (to influence) pendengarnya.

Dengan adanya perkembangan dunia media massa elektronik (selain berfungsi sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media penyampaian karya jurnalistik) kini dituntut untuk semakin meningkatkan kinerja dan profesionalismenya (J.B. Wahyudi,1996:1).

Jika dicermati, siaran radio yang baik dan berpengaruh besar dalam segala aspek kehidupan masyarakat (memberi informasi, hiburan atau pendidikan), adalah siaran yang diselenggarakan secara terencana dan dioperasionalisasikan menggunakan naskah acara yang dinilai baik, tidak hanya dari segi teknis tapi juga dari segi produksi.
Naskah program acara siaran dapat diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu gagasan atau pemikiran orang/kelompok yang telah disistematisasikan dan dimaksudkan untuk mencapai tujuan penyelenggaraan siaran radio ataupun televisi (A.Darmanto,1998:1)

Untuk membuat naskah siaran yang baik kita mesti mengetahui prinsip dasar penulisan naskah yang terdiri dari tiga aspek, yaitu :

aspek seni
setiap penulis naskah acara siaran radio harus menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah untuk kepentingan pertunjukan seni dengar. Oleh sebab itu penulis naskah harus memperhitungkan komposisi dari setiap unsur produksi acara radio,yaitu:kata, musik, dan sound effect.

aspek teknologis
setiap penulis naskah siaran radio harus memahami aspek teknik teknologis yang berupa perangkat keras produksi.penulis naskah harus tahu sifat siaran yang akan ditulisnya.

aspek bahasa
dalam konteks pembicaraan mengenai naskah radio, yang dimaksudkan dengan aspek kebahasaan mencakup segi tata bahasa(grammer), pilihan kata, gaya bahasa dan atau warna penulisan. (A.Darmanto1998:16-18)

Untuk mencapai strata penulisan naskah yang baik maka diperlukan suatu proses penulisan naskah yang terdiri dari tahap perencanaan, tahap prapenulisan, pelaksanaan penulisan, evaluasi dan penulisan kembali.
Pentingnya naskah siaran dalam suatu program acara, menjadi pendukung radio untuk menjalankan fungsi sosialnya sebagai media massa. Maka Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 3 Cabang Madya Bandung menyiarkan sebuah program berita yang diberi nama “Lintas Pagi”, program ini merupakan sebuah program berita yang mengangkat masalah-masalah aktual yang disajikan dengan pendekatan analisa berita/ in-depth. Format seperti itu diharapkan dapat membuat masyarakat mengetahui apa, mengapa dan bagaimana masalah itu bisa terjadi, selain itu angle berita menerapkan pendekatan publik. Dan semua berita disusun dalam news bulletin.
Dalam Proses Penulisan Naskah untuk Program Acara Lintas Pagi, merupakan program berita yang menampilkan berita aktual, oleh karena itu dipahami bagaimana memberikan informasi secara terpercaya tanpa mengabaikan etika jurnalistik dan menjadi alat kontrol sosial tapi tetap menerapkan angle berita untuk publik.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis merasa perlu mengetahui proses penulisan naskah siaran berita “Lintas Pagi”, memberi informasi yang terpercaya, dengan mengambil angle berita menerapkan pendekatan publik, tetapi bisa sebagai alat kontrol sosial. disini peranan naskah siaran berita sangat penting bagi kesuksesan sebuah program siaran.
Adapun judul dalam studi ini adalah Proses Penulisan Naskah Program Acara “Lintas Pagi” di RRI Pro 3 Bandung. Program acara yang diangkat adalah “Lintas Pagi”,
Lintas pagi adalah program siaran yang penyampaian informasi yang intinya berupa pengembangan berita-berita aktual hasil liputan sepanjang siang, sore, malam, dan dini hari yang berisikan topik-topik hangat sekitar masalah nasional dan berbagai peristiwa yang terjadi di wilayah Jawa Barat.

1.2. Tujuan Observasi
Tujuan observasi ini adalah :
untuk mengetahui proses penulisan naskah program acara “Lintas Pagi” di Pro 3 RRI Bandung ;
untuk mengetahui hambatan yang ditemukan di dalam proses penulisan naskah siaran “Lintas Pagi” di Pro 3 RRI Bandung serta cara menanggulanginya ;
untuk mengetahui kriteria naskah sehingga layak siar menurut ketentuan program siaran “Lintas Pagi” di Pro 3 RRI Bandung .

1.3 Kegunaan
1.3.1 Kegunaan Akademis
Dengan adanya adanya hasil studi ini penulis berharap dapat lebih memahami teori yang telah didapat dari bangku perkuliahan, juga dapat dijadikan bahan referensi bagi penelitian yang akan dilaksanakan melalui radio, khususnya proses penulisan naskah siaran,serta dapat menambah pembendaharaan pustaka Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD.

1.3.2 Kegunaan Praktis
Bagi RRI cabang Madya Bandung, hasil studi ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk mengevaluasi atau mengembangkan proses penulisan naskah siaran, khususnya siaran berita.

1.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Jenis metode yang digunakan adalah Metode deskriptif. Seperti yang dikatakan Rakhmat(1999:22), Metode deskriptif adalah metode yang menitikberatkan pada observasi dan suasana ilmiah (terjun ke lapangan), penulis bertindak sebagai pengamat, yang dilakukannya hanya membuat kategori perilaku, mengamati gejala dan mencatat dalam buku.

Data Penelitian
a. Data Primer
Yaitu data yang diperoleh dari cerita para pelaku peristiwa itu sendiri, dan atau saksi mata yang mengetahui peristiwa tersebut. Dalam hal ini penulis memperoleh data melalui wawancara dengan pembimbing Praktek Kerja Lapangan (PKL),beserta para reporter dan redaktur,dan atau kru (yang bertugas )dalam program siaran “lintas pagi”.

b. Data Sekunder
yaitu informasi yang diperoleh dari sumber lain yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan peristiwa tersebut, penulis memperoleh data dari studi kepustakaan.

Teknik Pengumpulan Data
Observasi, yaitu melakukan studi lapangan di lokasi yang telah dipilih agar melakukan pengamatan langsung dan berinteraksi terhadap kegiatan yang dilakukan perusahaan. Penulis mengamati kegiatan penulisan naskah siaran untuk program “lintas pagi”.

Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan mangajukan beberapa pertanyaan secara langsung oleh pewawancara kepada narasumber yang dinilai berkompeten dengan masalah yang akan di observasi, diantaranya adalah redaktur,reporter,dan dan atau kru (yang bertugas)dalam program siaran “lintas pagi”.

Studi Kepustakaan, yaitu mengumpulkan data-data,teori-teori dan sumber lainnya yang berhubungan dengan masalah yang akan di observasi

1.3. Lokasi Dan Waktu Observasi
Praktek Kerja Lapangan (Job Training) ini dilaksanakan di Perusahaan Jawatan RRI Cabang Madya Bandung, Jl. Dipenogoro No. 61 Bandung 40010. Telepon (022) 7207031-7218075, fax: (022) 7218073-7218075.
Waktu pelaksanaan dimulai tanggal 13 Maret sampai dengan 21 April 2006.kegiatan yang berlangsung dari hari Senin sampai dengan Ju’mat mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 14.00 wib.